PIDIE JAYA — Banjir kembali melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, setelah aliran Krueng Meureudu meluap pada Rabu malam, 8 April 2026, sekitar pukul 20.16 WIB. Sedikitnya 12 gampong di dua kecamatan terdampak dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 70 sentimeter.
Gampong yang terdampak tersebar di Kecamatan Meurah Dua dan Meureudu. Di Kecamatan Meurah Dua, banjir merendam Gampong Pante Beurenee, Dayah Husen, Meunasah Mancang, Meunasah Raya, Meunasah Bie, Beuringen, dan Geunteng. Sementara di Kecamatan Meureudu, genangan terjadi di Gampong Meunasah Lhok, Beurawang, Mayang Cut, Meunasah Krueng, Manyang Lancok, dan Mesjid Tuha.
Luapan air tidak hanya menggenangi permukiman warga, tetapi juga sempat mengganggu arus lalu lintas di ruas jalan nasional Banda Aceh–Medan.
Kendaraan roda dua dan roda empat dilaporkan mulai dapat melintas kembali pada Kamis dini hari setelah air berangsur surut dengan pengawalan aparat.
Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, Brigjen TNI Ali Imran, langsung merespons kejadian tersebut dengan mengerahkan ratusan personel TNI dari Kodim 0102/Pidie dan Yon TP 857/GS untuk membantu evakuasi dan penanganan di lapangan.
Selain itu, Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, turut mengerahkan unsur penanggulangan bencana daerah guna mempercepat penanganan dampak banjir serta memastikan keselamatan warga.
Dandim 0102/Pidie, Letkol Inf Abdul Hadi, menyampaikan bahwa meskipun kondisi air mulai surut, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir susulan.
“Meski tidak ada korban jiwa, tim gabungan TNI-Polri dan SAR masih disiagakan di sejumlah titik rawan. Warga diimbau segera mencari tempat yang lebih aman jika debit air kembali meningkat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa banjir kali ini dipicu oleh pendangkalan Krueng Meureudu akibat sedimentasi lumpur, terutama setelah banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025. Kondisi tersebut membuat kapasitas sungai menurun sehingga tidak mampu menampung debit air hujan dari wilayah hulu.
“Pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk normalisasi sungai agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tegas Abdul Hadi.
Berdasarkan data sementara di lapangan hingga Kamis pagi, 9 April 2026, genangan air telah berangsur surut. Namun, banjir menyisakan endapan lumpur dan tumpukan sampah di permukiman warga, yang kini mulai dibersihkan secara gotong royong.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa maupun kerugian material secara rinci. Pemerintah daerah bersama aparat terkait masih melakukan pendataan serta penanganan lanjutan di wilayah terdampak.(*)










